CNBTV.CO.ID – BALIKPAPAN – Kecelakaan maut yang melibatkan kendaraan angkutan barang di Simpang Pasar Buton, Jalan Soekarno-Hatta, kembali menjadi sorotan. Insiden yang terjadi pada Jumat (31/7/2026) itu menewaskan dua warga.
Menyikapi peristiwa tersebut, Anggota DPRD Kota Balikpapan dari Daerah Pemilihan Balikpapan Utara, Japar Sidik, menilai simpang tersebut memang memiliki tingkat kerawanan lalu lintas yang tinggi dan membutuhkan penataan yang lebih serius.
Menurut Japar, Simpang Pasar Buton merupakan titik pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah, yakni Jalan MT Haryono, Sepinggan, Rapak, dan kawasan Kilometer (KM). Kondisi itu membuat volume kendaraan di lokasi tersebut selalu padat, meski kemacetan sudah sedikit berkurang sejak dibukanya akses Jalan Grand City.
“Kalau dibandingkan dulu, keberadaan Jalan Grand City cukup membantu mengurai kepadatan lalu lintas. Tetapi tetap saja kawasan itu masih menjadi jalur yang sangat sibuk,” ujarnya kepada wartawan, pada Senin (3/8/2026).
Ia mengakui kecelakaan merupakan musibah yang tidak dapat diprediksi. Namun, menurutnya, kondisi geometrik jalan di Simpang Pasar Buton membuat risiko kecelakaan semakin tinggi sehingga diperlukan upaya pencegahan.
Japar menilai salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan adalah pemasangan dan pengoperasian lampu lalu lintas (traffic light) di simpang tersebut. Pasalnya, hingga kini belum ada traffic light yang mengatur langsung arus kendaraan di titik pertemuan tersebut.
“Kalau kita jujur melihat kondisi di lapangan, memang seharusnya ada traffic light di situ. Memang ada lampu lalu lintas di simpang lain, tetapi bukan di titik pertemuan yang rawan itu,” katanya.
Menurut dia, persoalan utama di simpang tersebut bukan hanya tingginya volume kendaraan, tetapi juga perilaku pengguna jalan yang saling berebut melintas. Kendaraan dari arah Rapak menuju Pasar Buton harus memotong arus kendaraan dari arah Kilometer menuju Rapak maupun sebaliknya. Persilangan arus itulah yang dinilai menjadi titik paling berisiko.
“Yang berbahaya itu kendaraan yang memotong jalur. Sementara kendaraan dari arah atas atau Kilometer umumnya merasa berada di jalur utama sehingga jarang mau mengalah. Akibatnya sering terjadi saling berebut,” jelasnya.
Selain itu, kondisi jalan yang menikung dan menurun semakin memperbesar potensi kecelakaan. Menurut Japar, kombinasi tikungan, turunan, serta pertemuan tiga arus kendaraan menjadikan Simpang Pasar Buton sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di Balikpapan.
Ia berharap persoalan tersebut menjadi perhatian Komisi III DPRD bersama instansi terkait untuk merumuskan langkah penanganan yang lebih efektif. Salah satunya melalui evaluasi rekayasa lalu lintas, termasuk kemungkinan pemasangan traffic light.
Sembari menunggu adanya kebijakan tersebut, Japar mengimbau seluruh pengguna jalan agar lebih berhati-hati dan mengutamakan kesabaran saat melintas di Simpang Pasar Buton, terutama bagi pengendara yang harus memotong arus kendaraan.
“Kalau tidak ada traffic light, kuncinya adalah hati-hati dan sabar. Pengendara yang memotong jalur harus menunggu sampai arus utama lewat terlebih dahulu. Itu yang paling penting untuk mencegah kecelakaan,” pungkasnya. (*)















